Copyright © www.aldakwah.org 2014. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Panduan Memilih Pemimpin

Oleh : Zahir Ahmad <This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. >

PEMILU Presiden 2014 tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya 9 Juli mendatang, pesta rakyat lima tahunan ini akan digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Berbagai persiapan terkait dengan pelaksanaan pemilu Presiden telah dilaksanakan secara maksimal. Bahkan, Capres dan Cawapres yang nantinya akan dipilih oleh rakyat juga telah melakukan kampanye dan sosialisasi ke berbagai pelosok tanah air.

Pemilu merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pemerintahan negara. Karenanya, pemilu adalah suatu hal yang penting dalam kehidupan kenegaraan. Jika tidak ada pemilu, maka proses pergantian kepemimpinan akan berlangsung secara revolusi atau kudeta. Oleh karena itu, pemilu menjadi instrumen penting untuk mewujudkan pemerintahan yang representatif dan legitimate (sah).

Berkaitan dengan pemilu Presiden yang akan digelar bulan depan, rakyatlah yang menentukan siapa saja orang yang layak untuk menjadi wakilnya di pemerintahan ke depan. Rakyat harus bertanggungjawab terhadap pilihannya dan tidak didasarkan pada pendekatan emosi, perasaan, dan kepentingan sesaat. Untuk itulah rakyat perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana cara memilih pemimpin yang baik dan berkualitas.

Sebagai orang yang beragama tentu nilai-nilai yang diajarkan oleh agama menjadi pedoman penting dalam memilih pemimpin yang baik dan berkualitas. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana agama Islam memberikan panduan dalam memilih pemimpin.

Dalam ajaran Islam, pemimpin dan kepemimpinan merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa  ditawar-tawar. Nabi Muhammad mengajarkan manakala dalam suatu perjalanan menuju kebaikan, di dalamnya ada dua atau tiga orang, maka hendaknya satu orang ditunjuk sebagai pemimpin agar ada yang memandu dan mengarahkan perjalanan tersebut sehingga mencapai tujuan yang jelas. Dari contoh kecil saja, nabi mengajarkan untuk kita memilih pemimpin, apalagi dalam rumah tangga, organisasi, masyarakat, dan bangsa yang jumlah anggotanya lebih banyak danlebih besar, tentu keberadaan pemimpin amat penting.

Kemudian orang yang dipercaya sebagai pemimpin seharusnya memiliki tanggung jawab besar atas kepemimpinannya. Ibarat kita naik kapal laut yang besar, pemimpin adalah nahkodanya. Kemana kapal tersebut akan dibawa, apakah dengan gerak cepat atau lambat, tergantung pada nahkodanya. Nahkodalah yang bertanggungjawab atas kesuksesan perjalanan kapal laut yang dijalaninya. Demikian juga, suatu masyarakat atau bangsa, berhasil atau tidaknya masyarakat atau bangsa tersebut, banyak ditentukan oleh faktor kepemimpinan dari masyarakat  atau bangsa tersebut.

Untuk itulah Allah mengajarkan kepada para pemimpin agar dapat menjalankan amanah kepemimpinan tersebut dengan sebaik-baiknya dan berlaku adil dalam memutuskan setiap perkara. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nisa (4) ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruhkamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Kata pemimpin dan kepemimpinan sebenarnya berasal dari akar kata yang sama “pimpin”, kemudian ada penambahan awalan pe- menjadi pemimpin, dan dari kata pemimpin ada tambahan ke-an menjadi kepemimpinan. Kata pemimpin (leader) dalam istilah Islam dikenal dengan kata “imam, khalifah, dan amirulmu’minin”. Imam artinya orang yang di depan, seperti pemimpin salat disebut dengan imam dan dia berada di depan. Sementara khalifah artinya pengganti, khulafaurrasyidinsebenarnya adalah khalifatunnabi artinya pengganti nabi dalam hal kepemimpinan bukan wewenang sebagai nabi. Selanjutnya, kata amirul mu’minin artinya kepala atau pimpinan dari orang-orang yang beriman (umat Islam). Jadi pemimpin adalah orang yang melaksanakan tugas dalam memimpin umat (jemaah).

Sedangkan kepemimpinan bisa berarti proses, sistem, dan alat (media). Karenanya, bentuk dan pola kepemimpinan bisa beragam, tergantung pada konsep yang digunakannya. Jika menggunakan konsep demokrasi, maka kepemimpinan tidak tunggal tetapi bersifat kolektifkolegial artinya kepemimpinannya terbagi-bagi dalam beberapa kekuasaan seperti kepemimpinan di eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Kepemimpinan dalam Islam bertitik tolak dari kesadaran setiap individu bahwa dirinya memiliki tanggung jawab untuk memikul amanah yang diberikan oleh Allah sebagai khalifah fil ard yang bertugas untuk memakmurkan alam semesta ini. Konsekuensi dari amanah ini berarti setiap individu dituntut untuk dapat melaksanakan segalaperintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Untuk menjalankan amanah tersebut, seseorang dibekali oleh Allah berupa kemampuan berpikir agar ia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan.

Secara naluriah Allah juga membekali manusia sebagi makhluk yang senantiasa mau berkumpul(berkelompok) sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Karenanya, manusia dianjurkan untuk lita’arafu (saling berinteraksi). Melalui proses interaksi inilah nantinya manusia akan terlatih dalam kepemimpinannya, baik interaksi antara manusia dengan sesamanya maupun interaksi dengan Tuhan dan alam semesta. Interaksi tersebut harus dilakukan secara adil atau seimbang. Jadi, dalam konsep kepemimpinan Islam, ada empat kata kunci penting yang mesti dijalankan yaitu menjalankan amanah dengan baik, memiliki ilmu pengetahuan (kemampuan) yang mumpuni, berinteraksi dengan baik, dan berlaku adil.

Kepemimpinan dalam Islam merupakan sebuah proses untuk memotivasi, mengarahkan, dan mentransformasikan program-program kegiatan yang sesuai dengan ajaran Islam dalam mencapai tujuan bersama. Bahwa dibentuknya negara pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu kepemimpinan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Caranya, seorang pemimpin hendaknya berinteraksi dengan masyarakat. Dia harus mengenal konteks dan kebutuhan masyarakat. Kemudian, menyiapkan strategi program yang didasari oleh kesiapan psikologis dari seorang pemimpin yaitu keterbukaan pikiran, kemampuan berpikir kritis, dan memiliki kreativitas.

Jadi strategi dalam memimpin tidak berangkat dari tumpukan kertas, teori atau di atas meja, tetapi harus berdasarkan pada kebutuhan nyata dan konteks sosial yang ada di masyarakat. Sebagai contoh, saat menghadapi krisis ekonomi, khalifah Umar bin Khattab membagikan sembako kepada rakyatnya. Meskipun sore hari beliau sudah menerima laporan tentang pembagian yang merata. Pada malam hari, saat masyarakat sudah mulai tidur, Umar mengecek langsung dengan mendatangi lorong-lorong kampung. Umar mendapati masih ada rakyatnya yang memasak batu sekadar untuk memberi harapan kepada anaknya yang menangis karena lapar. Meskipun malam sudah semakin larut, Umar pulang ke rumahnya dan ternyata ia memanggul sendiri satu karung bahan makanan untuk diberikan kepada rakyat yang belum memperolehnya.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah ketika kita memilih pemimpin hendaknya kita memilih pemimpin yang memenuhi kriteria sebagai berikut: dapat menjalankan amanah kepemimpinan dengan baik, memiliki ilmu pengetahuan (kemampuan) yang mumpuni, cakap dalam berinteraksi dengan Tuhan, manusia dan alam semesta, berlaku adil, dan memiliki komitmen tinggi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Untuk bisa memilih pemimpin sesuai dengan kriteria di atas, maka rakyat perlu mengenal betul latar belakang calon yang akan dipilihnya, baik menyangkut kepribadian, pendidikan, keluarga, keberagamaan, dan kepemimpinannya. Rakyat tidak asal coblos dan yang penting ikut memilih, tetapi perlu pertimbangan-pertimbangan yang masak sehingga tidak menyesal di kemudian hari. Wallahu a’lam bi al-shawab.

suara-islam.com