Copyright © www.aldakwah.org 2014. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

HOS Tjokroaminoto, Teladan Generasi Muda

Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional

Pengabdian bukan meminta seberapa besar gaji atau imbalan tetapi membicarakan seberapa besar tenaga, harta, pikiran dan jiwa yang kau korbankan, karena satu yang menjadi tujuan yaitu keberkahan. Begitulah pengabdian, tepat tanggal 16 Agustus 1882 di desa Bakur, Ponorogo, Jawa Timur lahirlah seorang guru bangsa yang melahirkan tokoh-tokoh hebat Indonesia di masa yang akan datang yaitu Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau sering dikenal sebagai HOS Tjokroaminoto.

HOS Tjokroaminoto merupakan anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu dan kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Terlahir dari keluarga bangsawan tak membuatnya bersikap angkuh, justru karena itulah ia akhirnya menjadi sebuah motor penggerak kemerdekaan bagi Indonesia di saat semua manusia tertidur dalam belaian kompeni Belanda.

“de Ongekroonde van Java”, Sang raja jawa tanpa mahkota begitulah kaum Kompeni Belanda menyebutnya, lihai cerdas, dan bersemangat. Di takuti dan juga disegani lawan – lawan politiknya. Perjuangnya dalam membela hak kaum pribumi saat itu benar – benar menempatkan dirinya menjadi seoarang tokoh yang benar-benar dihormati pada saat itu.

Setelah menamatkan studinya di OSVIA, Magelang tahun 1900 ia masuk di pangreh pradja namun keluar pada tahun 1907 karena tidak suka dengan praktek sembah-jongkok yang dianggapnya sangat berbau feodal. Lalu pada tahun 1907 – 1910 bekerja pada Firma Coy & CO di Surabaya. Ia juga seorang jurnalis dan juga pernah memimpin suratkabar Otoesan Hindia yang merupakan organ internal SI sekaligus sebagai pemilik usaha percetakan Setia Oesaha di Surabaya. Serta HOS Tjokroaminoto pun piawai menulis buku, di antaranya adalah dua buku yang diberi judul Tarich Agama Islam serta Islam dan Sosialisme.

Istrinya bernama Raden Ajeng Suharsikin , puteri seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama Raden Mas Mangoensomo. Suharsikin adalah sosok cermin wanita yang selalu memberikan bantuan moril dan semangat kepada suaminya dan salah satu hal yang selalu menjadi kebiasaannya yaitu jika suaminya bepergian untuk kepentingan perjuangan, maka ia pun mengiringi suaminya dengan sholat tahajud, puasa, dan doa.

Pada tahun 1912, ia pun tampil sebagai politikus muda yang mendirikan Sarekat Islam sebagai penerus dari Serikat Dagang Islam tahun 1905 yang didirikan oleh H. Samanhudi yang dibubarkan oleh kolonial belanda karena dianggap membahayakan mereka. HOS Tjokroaminoto pun mengubah orientasi organisasi ini yang mulanya bergerak di bidang ekonomi diperluas menjadi 4 bidang yaitu politik, ekonomi, sosial dan agama. Selain itu juga tujuan pendirian Sarekat Islam yaitu untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang cina, membuat front-front yang melawan semua bentuk penghinaan terhadap rakyat bumiputra, dan merupakan reaksi terhadap rencana Krestenings-Politiek (Politik Peng-Kristenan) dari kaum zending, perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtener-ambtener bumi putra dan eropa. Konon anggota dari organisasi Sarekat Islam ini harus mengangkat sumpah rahasia dan memiliki kartu anggota yang sering kali dianggap sebagai jimat oleh orang-orang desa.

Sifat politik dari organisasi ini dirumuskan dalam “keterangan pokok” (asas) yang berisi bahwa, “Agama Islam itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat manusia sambil menjunjung tinggi kepada kuasa negeri” dan “bahwasanya itulah {Islam} sebaik-baiknya agama buat mendidik budi pekertinya rakyat”. Partai juga memandang“agama … sebagai sebaik-baiknya daya upaya yang boleh dipergunakan agar jalannya budi akal masing-masing orang itu ada bersama-sama pada budi pekerti… ”. sedangkan negeri atau pemerintah “hendaklah tiada terkena pengaruhnya percampuran barang suatu agama, melainkan hendaklah melakukan satu rupa pemandangan di atas semua agama itu.” Central Sarekat Islam pun “tidak mengharapkan sesuatu golongan rakyat berkuasa di atas golongan rakyat yang lain. Ia lebih mengharapkan hancurnya kuasanya satu kapitalisme yang jahat (zondig kapitalism), dan memperjuangkan agar tambah pengaruhnya segala rakyat dan golongan rakyat … di atas jalannya pemerintahan dan kuasanya pemerintah yang perlu akhirnya mendapat kuasa pemerintah sendiri (zelf bestuur).”

Pada kongres nasional Sarekat Islam pertama di Bandung pada tahun 1916, HOS Tjokroaminoto berpesan pada semua peserta kongres,”Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang disebabkan hanya karena susu. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya adalah penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri, tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita.”

Selain sibuk di politik dan kepemimpinannya, HOS Tjokroaminoto bersama istrinya Suharsikin membuka rumahnya sebagai indekos di gang peneleh Surabaya bagi para pelajar Surabaya. Ia pun berkata, “Rumah ini bukan sembarang rumah untuk tempat tidur, melainkan rumah ini adalah rumah pertanyaan, rumah untuk saling berdiskusi, bertukar pikiran dan juga ideologis”. Oleh karena itu lahirlah dari rumah ini sosok pemimpin yang mewarnai Indonesia di masa-masanya seperti Soekarno yang Nasionalis, SM kartosuwirjo yang fundamentalis Islamis dan Muso-Alimin yang Komunis, bahkan H. Agus Salim pun tertarik dengan pemikirannya. Suatu saat ketika HOS Tjokroaminoto berdiskusi dengan H. Agus Salim mengenai Hijrah, dengan tegas HOS Tjokroaminoto mengatakan bahwa, “Hanya ada satu-satunya jalan untuk berhijrah yaitu setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat”.

Pada Tahun 1921, HOS Tjokroaminoto ditinggalkan oleh istrinya RA. Soeharsikin disebabkan sakit tipus dan sakit perut. Hal ini bermula dari anak bungsu beliau, Soejoet Tjokroaminoto, terkena tipus. Soeharsikin yang menjaga anaknya selama berbulan-bulan malah tertular penyakit anaknya tersebut dan akhirnya meninggal dunia. Almarhumah Soeharsikin kemudian dimakamkan di Botoputih, Surabaya.

Pada tahun 1919 HOS Tjokroaminoto ditangkap karena adanya tuduhan terlibat dalam kasus Sarekat Islam Seksi B yaitu unit dari Sarekat Islam yang bersifat revolusioner yang membunuh semua orang Eropa dan Cina serta dalam peristiwa Garut. Pada tahun 1934, saat usianya 52 tahun, beliau mulai sakit-sakitan namun masih tetap terus berjuang bersama SI, dan di kongres XX di Banjarnegara yang diadakan 20-26 Mei 1934 merupakan kongres SI terakhir yang dihadirinya. Di kongres ini HOS Tjokroaminoto memberikan wasiat tertulis yang bernama “Program Wasiat” yang merupakan suatu rencana “Pedoman Umat Islam” yang kemudian diserahkan pada kaum PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) pada tanggal 4 Februari 1934 dan disahkan oleh kongres Banjarnegara 1934.

Tanggal 30 Agustus-2 September 1934 di Pare sewaktu berlangsung konferensi wilayah PSII Jawa Timur, ia terlihat pucat dan lemah. Tak lama kemudian anaknya, Anwar Tjokroaminoto yang selama ini tinggal di Jakarta mendapat kabar dari keluarga di Yogyakarta yang mengatakan kondisi Tjokroaminoto mulai melemah. Akhirnya beliau mulai tidak bisa berjalan dan badannya mengalami kelumpuhan sebelah sehingga praktis ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Akhirnya pada hari Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353 H, atau tepatnya pada tanggal 17 Desember 1934 H.O.S Tjokroaminoto menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau dimakamkan di Kuntjen, Yogyakarta. Dalam rangka mengenang dan menghargai jasa-jasa dan sumbangsihnya kepada negara baik dalam bentuk tenaga, pikiran, bahkan harta benda yang tak dapat dihitung besarnya, berdasarkan S.K. Presiden RI. No.590/1961 Tjokroaminoto pun diangkat menjadi pahlawan nasional.

________________________________________________________

Referensi:

Amelz. 1952. H.O.S Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya, Jakarta: Bulan Bintang,

Amin, M. Masyhur. 1995. Tjokroaminoto Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya.Yogyakarta: Tjokroaminoto University Press.

Brackman, Arnold. 1963. Indonesian Communism. New York: Preager.

Deliar, Noer. 1996. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.

Dengel, Holk. 1997. Darul Islam dan Kartosuwiryo: Sebuah Angan-Angan yang Gagal, Jakarta: Sinar Harapan.

Geertz, Clifford. 1982. Santri, Abangan dan Priyayi, Jakarta: PT Gramedia.

Gonggong, Anhar. 1985. HOS. Cokroaminito. Jakarta: Depdikbud.

Ingleson, John. Jalan Ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia 1927-1934, Jakarta: LP3ES, 1988

Legge, J.D. Sukarno, Biografi Politik, Jakarta: Sinar Harapan, 2000.

Mc.Vey, Ruth. 1965. The Rise of Indonesian Communism, Ithaca.NY: Cornell University Press.

Priyono. 1958. Tjokroaminoto. Solo: Yayasan Pendidikan Islam Tjokroaminoto.

Richlefs, M.C. 2001. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.

Sartono Kartodirjo, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia, jilid V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Shiraishi, Takashi. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Press, 1997.

Sudarmanto. 1992. Jejak-Jejak Pahlawan. Jakarta: Gramedia.

Tjokroaminoto, HOS. 2000. Sosialisme di dalam Islam, dikutip dari Islam, Sosialisme dan Komunisme (editor: Herdi Sahrasad), Jakarta: Madani Press.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/20/68898/hos-tjokroaminoto-teladan-generasi-muda/#ixzz3agLaaywI